Preserving Cultural Heritage: HMI Cakraningrat Lahirkan Karya Batik Tulis Khas dengan Nilai Filosofis


Di tengah gempuran produk tekstil modern, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Cakraningrat Cabang Bangkalan meresmikan program kewirausahaan Batik Tulis sebagai langkah nyata pelestarian budaya lokal. Inisiatif dari Pengurus Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi (KPP) ini memiliki tujuan mengenalkan teknik membatik ke daerah Galis dan sekitarnya yang kurang familiar, sekaligus mendorong jiwa kewirausahaan kader. Irbatun Ma'munah selaku Ketua Bidang KPP menunjuk Siti Maryam sebagai koordinator dalam merealisasikan program tersebut dengan mengikutsertakan seluruh kader untuk berpartisipasi dalam pembuatan batik tulis. 

Siti Maryam, ia merupakan pengurus departemen pengembangan profesi di bidang KPP yang memiliki keahlian membatik sejak kelas 6 SD. Membatik merupakan tradisi di kampungnya, Kokop/Limbung yang mayoritas penduduknya membuat karya batik ini sebagai kebiasaan sekaligus pekerjaan. mereka belajar membatik dari Tanjung Bumi, karena merupakan salah satu sentra terkenal di Bangkalan.

Batik Tulis HMI Cakraningrat dirancang syarat makna filosofis yang diambil dari tema organisasi, dengan motif khas yaitu: Keris, Buku, Padi dan Kapas, Tali-temali, dan Ayam. Ketua Umum HMI Cabang Bangkalan, Kanda Kresna Bayu, mengapresiasi inovasi ini sebagai bukti nyata peran HMI, “Inovasi ini menjadi bukti bahwa HMI tidak hanya bergerak di bidang keilmuan dan sosial, tetapi juga turut menjaga budaya lokal agar tidak tergerus zaman. Batik tulis ini adalah simbol dari kemandirian dan karakter kader HMI yang kreatif serta berjiwa nasionalis.” tegas kanda Kresna.

Senada dengan itu, Yunda Aini, Ketua Umum KOHATI Cabang Bangkalan, menyebut inisiatif ini sebagai perwujudan "Insan Cita" organisasi. "Kader HMI Cabang Bangkalan Komisariat Cakraningrat sudah membuktikan serta mewujudkan tujuan HMI, yakni sebagai Insan Cita. Ikut andil berperan penuh dalam menjaga kelestarian budaya membatik yang diimplementasikan dalam bentuk mahakarya batik buatan tangan langsung kader militan HMI Cakraningrat," jelas Yunda Aini.

Ketua Umum KOHATI Cabang Bangkalan memberikan Sertifikat Penghargaan Terhadap HMI Cakraningrat sebagai bentuk Apresiasi terhadap inovasi dan kreativitas kader. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa HMI peduli serta memiliki tanggung jawab untuk menjaga budaya Indonesia agar tetap utuh dalam jiwa kader muda. Selaras dengan apa yang disampaikan oleh Ketua Umum HMI Cakraningrat, Kanda Sa'ad Annaufal "HMI Cakraningrat tidak hanya sekedar dalam retorika perdebatan, kami hadir dengan aksi nyata.". 

Siti Maryam menambahkan. HMI merasa terpanggil untuk berperan sebagai agen pengenalan dan pembudidayaan. Proses pembuatan satu karya Batik Tulis ini membutuhkan waktu yang sangat panjang, berkisar antara dua hingga tiga bulan. "Kalau tidak salah, [prosesnya] sekitar 2 sampai 3 bulan, dan yang lama ini di pencuciannya. Proses pencuciannya harus mengantri, minimal yang paling cepat itu setengah bulan," ungkapnya. ia juga menjelaskan bahwa proses pencucian ini bervariasi, yang mana hal ini akan memengaruhi kualitas yang dihasilkan. Untuk edisi perdana ini, HMI memilih kombinasi warna dasar hitam dengan motif emas-keemasan.

Langkah yang diambil oleh HMI Cakraningrat ini membuktikan peran penting pemuda dalam menjaga warisan budaya Indonesia, sejalan dengan pengakuan global terhadap Batik oleh UNESCO pada 2 Oktober tahun 2009 batik adalah Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. Ke depannya, program ini direncanakan akan terus berkelanjutan dengan target pemasaran yang lebih meluas, serta pengembangan motif-motif baru yang benar-benar khas Cakraningrat, memastikan Batik Tulis tetap utuh dalam jiwa kader muda. 

Penulis: Farida

Posting Komentar

0 Komentar